Senin, 10 Desember 2012 - 0 komentar

Laut Indah Karena Ombak Part 2


Ini sisi lain kehidupan Tria, selain sebagai sekretaris kelompok KKN. Dia mahasiswi simpel, yang autis dengan hidupnya (kata seorang teman). Ya memang benar, pribadinya yang introvert kadang membuatnya kesulitan bergaul. Belum lagi style-nya yang old fashion. Bukan rahasia, Tria tidak pandai ber’make-up’ walau dia seorang perempuan. Tambahan kacamata lengkaplah dia seperti tokoh culun yang biasa tampil di sinetron. Hahaha :D sayangnya, beberapa waktu sebelum ini terjadi, kacamatanya hilang. Jadilah mata Tria dengan fokus yang berbeda antara kanan dan kiri, sekarang, tanpa kacamata. 

Tria seorang manusia yang punya hati. Hidupnya seperti roda yang berputar, kadang dia tersenyum bahagia, kadang dia tersenyum menutupi sakitnya. Hah, sudahlah, singkatnya aku hanya ingin bilang, saat itu aku sedang dalam proses ‘move on’ dari mantanku yang tak pernah direstui orang tuaku. Biasa problem anak muda. Sudah cukup lama aku berdiam dengan hatiku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuka hati. Siapakah seseorang yang telah mengetuk pintu hatiku?

Jumat, 6 April 2012, dalam waktu yang sangat singkat, entah apakah aku sudah berpikir tentang ini atau hanya terhanyut perasaan, aku putuskan berpacaran dengan Awan. Sahabat lama, yang muncul lagi setelah sebulan putus dari pacarnya (benarkah sudah putus? Entah! Itu jawaban yang tepat). Gilakah aku? Hahaha :D cinta tak ada logika, modusku. Sebelum tanggal itu, 3 tahun aku tak pernah bertemu dengan Awan. Sesekali saja Awan menyapaku lewat SMS. Hanya saja ada satu hal yang membuatku tetap ingat perasaan itu, perasaan saat pertama aku jatuh hati padanya. Satu hal itu adalah cincin. Cincin warna perak dengan tepian warna emas yang 3 tahun lalu dia berikan padaku. Sejak tanggal 6 April, cincin itu melekat erat di jari tengah tangan kiriku. 

Sudahkah aku mengenalnya dengan baik? Jangan tanyakan itu padaku, karena bahkan sejak hampir 3 tahun aku tidak bertemu dengannya, kemarin baru 2 kali aku bertemu dengannya, aku langsung menerimanya menjadi pacarku. Hahaha :D Saat itu, aku bahkan belum tahu masa lalunya dengan mantannya. Bukan tak pernah aku bertanya, hanya saja saat aku bertanya tentang masa lalunya, Awan selalu marah padaku “Aku tak suka membahas hal yang membuat aku kesal. Masa laluku adalah hal yang membuat aku badmood!” Diam.
Kisah cintaku tak berjalan tanpa halangan seperti jalan tol. Aku dan Awan jauh, aku di Jogja dan dia di Semarang. Sesekali saat libur cukup panjang barulah kami bisa bertemu, itupun kalau Awan gak sibuk (aku kasih tau ya Awan itu ngakunya ketua UKM Baseball, sekarang dia atlet baseball Semarang). Lebih sering, kami berkomunikasi lewat SMS, tak banyak tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku selalu takut jenuh datang menghampiri kami. Aku dengan segala keterbatasanku, akankah mampu terus mengikuti langkah kaki kehidupannya?
***
Beberapa hari sebelum 2 Juni 2012, seperti malam-malam sebelumnya, aku merapat di teras perpustakaan.
“Teman, adakah diantara kalian yang senggang 2 Juni besok? Aku ma Hesti harus pergi mengambil spesimen di Krakal. Maukah 2 orang dari kalian mengantar kami?” mohonku saat itu.
“Wah sibuk tuh, aku ada trip ke lokasi penduduk suku Badui,” kata Tio.
“Aku juga gak bisa, bisnis,” kata Akso.
“Aku juga gak bisa, sorry, coba dong hubungi yang Semarang tu, demi cinta pasti maulah,” goda Ano, si Ketua kelompok.
Temen-temen KKN langsung aja heboh, saat itu juga status aku menyebar, kecuali Izi. Dia tidak datang merapat saat itu.
“Nih si Harry bisa, kurang satu lagi aja,” solusi Ano.
“Nah, Izi aja di SMS, Sini aku yang SMS dia,” tawar Tio sembari merebut handphone-ku.
Aaaaaaaaaargh, menyebalkan! Mereka asyik sekali menggodaku semalaman itu.
“Aduh aku jadi bingung, uangku habis, aku mau mudik je,” jawab Izi setelah Tio SMS minta tolong, atas namaku, tentu saja.
“Please, mau ya… Ini penting banget buat KKN aku. Masalah uang nanti pinjem aku dulu gak apa-apa deh,” mohonku memelas.
“Iya deh, demi kelompok KKN,” sanggup Izi.
“Makasih ya, masalah motor, Akso mau pinjemin kok,” legaku.
***
Sabtu, 2 Juni 2012, pukul 05.00 WIB “Hallo, udah bangun lom nie? Ayo bangun, jadikan antar aku ke pantai? Jangan lupa ya,” telponku.
Izi menjawab di seberang sana, “Iya udah bangun kok. Oke!”
IM3 ke XL booooo… gak masalah, toh ini memang urusan penting. Sudah aku siapkan pulsa yang cukup untuk ini (sengaja).
Beberapa saat kemudian,
“Aku udah di gang, kosmu mana?” tanya Izi.
“Oh ya, aku keluar deh, lurus aja,” jawabku, gugup. Aku akan bertemu Izi hari ini, wow!
“Hai, makasih ya udah datang, maaf ngrepotin,” kataku membuka pertemuan pagi itu.
“Iya gak apa-apa,” jawabnya singkat.
“Udah makan?” lanjutku mencoba mengisi kekosongan sambil menunggu teman-teman yang lain berkumpul.
“Ya, sudah,” jawabnya dengan senyum dari bibir khasnya, yang suatu saat nanti aku tahu, bentuk bibirnya unik karena kecelakaan.
Kini, aku tengah berdiri di sampingnya. Dia duduk di atas jok motor Akso. Dia mengenakan kemeja panjang bergaris hitam dan celana jeans panjang (resmi sekali :P). Apapun yang dia pakai, tetap saja menarik pandangan mataku untuk tetap melihatnya (lupa udah punya Awan). Kakinya jenjang, membuatku yakin dia sangat lelah duduk berpuluh-puluh menit di motor dalam perjalanan ke Krakal nanti.
Tak lama, teman-teman berkumpul dan berangkatlah kami. Ini pertama kalinya Izi ke Krakal. Ini pertama kalinya, aku perjalanan jauh bersama Izi. Menyenangkan J Paling tidak, aku merasa nyaman duduk di belakangnya. Sampai akhirnya, sampailah kami di pantai. Aku dan teman-teman Biologi, turun ke pantai mengambil spesimen, sedangkan Izi dan Harry berjalan-jalan.
Saat selesai, kami sempatkan narsis di pantai. Hehehe :P sayang jika pemandangan indah dilewatkan begitu saja. Aku? Aku duduk bersama Izi, berdua, di tepi pantai, memandang lautan biru. Seperti ombak di lautan yang bergemuruh itu, hatiku pun bergemuruh. Suasana ini indah. Mungkin sejak saat itu, aku suka pantai yang berombak. Kami bercakap banyak hal.
“Kenapa kamu gak ikut foto?” Tanya Izi.
“Aku nemenin kamu, masa iya aku tega biarin kamu sendiri,” jawabku sekenanya (meski sejujurnya, aku memang ingin duduk berdua dengannya).
Izi hanya tersenyum dan memalingkan wajahnya memandang lautan. Aku? Like a fool, memandangnya dari sudut mataku dan melukis siluet wajahnya dalam memori otakku.
Suatu hari, di kala kita duduk di tepi pantai dan memandang ombak di lautan yang kian menepi.
Burung camar terbang bermain di derunya air.
Suara alam ini hangatkan jiwa kita….
***
Malam merapat selanjutnya, “Hayooooo Izi, ngapain aja kemarin ma Tria?” ledek Tio. Tio inilah sosok teman KKN yang bisa saja buat suasana menjadi seru.
“Gak ngapa-ngapain kok?” jawab Izi bingung, wajah innocent-nya benar-benar membuat orang tertawa.
Aku hanya tersenyum, membiarkan Izi menjadi bahan ledekan Tio. Aku menikmati ledekan itu, hahaha (kejamnya).
Sejak malam itu, aku yakin Izi tahu aku punya pacar. Sejak saat itu pula, aku jarang (lebih jarang daripada jarangnya kami biasa berkomunikasi) berkomunikasi dengannya. Bukan salah siapapun, ini hanya karena aku fokus dengan Awan, hingga selain itu terlihat buram. Keburaman yang suatu saat pasti akan aku sesali. Lihat saja!
***
Minggu, 09 Desember 2012 - 0 komentar

Laut Indah Karena Ombak Part 1


“Hai, namaku Tria. Aku KKN di SMA X, sama denganmu. Salam kenal, hubungi aku balik ya J terima kasih”
Itu SMS yang aku kirim ke semua teman-teman KKN-ku. Sekadar memperkenalkan diri dan berusaha membangun komunikasi. Hehehe :P maklum, ini pengalaman pertamaku. Aku yakin cerita KKN-ku akan berjalan menarik.
Drrrrrt….! Handphone-ku bergetar. Ada pesan masuk yang langsung aku baca.
“Mungkin kamu salah, aku bukan di SMA itu. Kamu pacar temanku hah?”
Hah! Apa iya aku salah, jelas-jelas aku dapat nomor ini dari teman sejurusannya. Aku pacar temannya? Mana mungkin, aku saja tidak mengenalnya. Aku segera membalas pesannya.
“Bukankah namamu Izi? Aku tau ini dari temanmu sendiri, Akso.”
Semenit, dua menit, aku menunggu dengan banyak pertanyaan. Jika aku salah, aku akan sangat malu. Memperkenalkan diri dengan sok akrab dan ternyata salah orang, itu bukan awal yang baik.
Pesan masuk dari Izi, “Hahaha :D iya berarti kalo dari dia, aku benar temen KKN-mu. Salam kenal!”
Hahahahahaha :D sangat terlalu…. Akso bilang, “Dia memang kaku, biasalah orang baru dikenal.”
***
Tik tok tik tok! Jam dinding terus berdetak menunjukkan bahwa waktu memang takkan pernah mau berhenti sejenak saja. Pertemuan pertama dengan dosen pembimbing KKN tinggal esok.
Kamis, 2 Februari 2012
“Halo, namaku Tria, dari pendidikan Biologi, FMIPA. Asalku dari Kebumen. Salam kenal!”
Perkenalan pertamaku dengan teman sekelompok KKN. Kami ber-13, dengan 6 laki-laki dan 7 perempuan. Semua terasa kompak, apalagi kalau kamu tahu rahasianya, 6 dari kami adalah teman SMA. Hehehe :P kami gak pernah janjian, it’s a fate! Setelah pertemuan ini, aku dan teman-teman akan lebih sering bertemu membahas program kerja kami. Yah, so far so fine.
***
Drrrrttt…! Handphone-ku bergetar. Yeah, kamu harus tahu jarang aku menderingkan handphone-ku. Jujur saja handphone-ku produk Cina, nada deringnya nyaring dan aku tidak suka gangguan itu. Jadi, lebih baik aku getar saja. Aku buka pesan itu dan aku terkejut. Bukan karena itu pesan menang undian 1 M atau ancaman boom, tapi karena itu adalah pesan dari Izi. Kamu tahu bukan, awal perkenalan kami tak berjalan mulus, hal luar biasa bagiku saat dia menyapaku terlebih dahulu.
“Kamu mau ikut gabung PKM-ku?”
Hah! PKM? “Tentang apa?” balasku.
“Tentang kandungan pectin dalam kulit jeruk. Mungkin saja bisa kita buat minuman penunda lapar, bagaimana?” jawabnya menjelaskan.
“Aku belum banyak tahu, tapi mungkin saja itu bisa. Ya akan aku bantu. Bolehkah aku mengajak seorang temanku?” lanjutku.
“Oke! Oh ya tapi aku belum mencari referensi tentang itu,” jelasnya.
“Hem, ya nanti akan aku coba cari dan segera menghubungimu,” sanggupku.
Dengan keseriusan tinggi (nggaya), aku coba cari referensi tentang itu. Ya tentu saja aku menemukannya dan menyusunnya menjadi file yang rapi untuk aku berikan pada Izi, ‘folder untuk Izi’. Coba saja kamu cari di notebook-ku, kamu akan menemukan folder itu. Pasti! Masih utuh dengan isi-isinya yang takkan pernah jadi aku berikan padanya.
“Nanti kamu berangkat rapat? Aku ingin memberikan sesuatu,” pesanku.
“Aku sedang sakit, tapi baiklah aku usahakan untuk berangkat,” janji Izi.
Suatu malam, malam biasa dimana aku dan teman-teman KKN merapat. Aku berniat memberikan sejumlah referensi yang sudah aku cari untuk Izi.
“Woi, bro, kamu berangkat juga. Katanya kamu sakit, hah?” Tio menggoda Izi, “Hahaha, tenang saja ada………………………………………”
Izi hanya tersenyum.
Kenapa kalimat Tio berlanjut dengan titik-titik? Karena aku tidak mendengar lanjutan kata-kata Tio. Nyatanya memang Izi flu saat itu. Melihatnya datang dengan menggunakan jaket tebal, membuatku merasa bersalah memintanya datang malam-malam untuk rapat. Oh ya, kami selalu rapat di teras perpustakaan.
Ketika bahasan rapat sudah selesai, aku mendekatinya yang tengah duduk di dekat tembok perpustakaan. Aku malu, tentu saja. Bagaimana mungkin aku dulu yang harus mendekatinya? Tetapi jika tidak, sampai kapan dia akan diam seakan tidak ada kepentingan antara aku dan dia. Aku duduk di sampingnya dan memberikan gambaran singkat PKM jeruk itu, “Ini bacalah.’
Beberapa saat, kami hanya diam. Izi membaca catatan berantakanku.
“Bagaimana ini, jadikah PKM kita?” tanyaku pada Izi.
“Maaf, aku masih sibuk kuliah,” jawab Izi, “mungkin lebih baik untuk fokus skripsi saja, bukan PKM.”
Sudah jelas bukan alasannya kenapa aku tidak pernah memberikan folder itu padanya. Huuuuft, >_<
***
Berhari-hari sejak saat itu, aku menjadi koordinator teman-teman. Aku menjadi penyebar informasi. Oh ya, aku sekretaris dalam kelompok. Setiap ada info baru, setiap ada perkembangan kelompok, setiap ada pertemuan, aku yang akan menyebarkan semua itu pada teman-teman.
“Jangan lupa merapat ya,” pesanku pada semua teman-teman KKN.
“Oke! Udah makan?” balas Izi.
Hahaha :D Izi… Izi… dan Izi. Tentu saja, ini ceritaku tentangnya. Jadi, jangan bosan membaca nama Izi dalam ceritaku ini.
-udah makan?- pertanyaan Izi yang khas sekali selalu dia tanyakan setiap kali SMS-an denganku, hingga suatu hari,
“Kalau aku belum makan, apakah kamu mau traktir aku?” candaku.
“Ya, di angkringan ya, mau? Haha,” jawab Izi.
“Oke! Bener loh ya, aku belum pernah tuh makan di angkringan,” tanggapku.
Ya begitulah. Pertanyaan yang sangat lugu, kecuali ini.
“Kenalin lah aku ma temen-temen kos kamu,” SMS Izi suatu hari.
“Hahaha :D temen-temenku cantik-cantik (gak kayak aku :P) Mau tipe yang seperti apa? Datanglah ke kos,” godaku.
“Siapa bilang, kamu manis kok. He, gak jadi kenalan ma temen-temen kamu lah. Belum tentu cocok,” balasnya.
Sadarkah kamu, ada sesuatu yang buatku tersenyum tanpa aku sadari saat membaca SMS itu. Dia bilang aku manis. Hahaha, aku juga wanita, senang dipuji. Bukan itu sih intinya, seorang Izi mengatakan hal itu sungguh hal yang luar biasa bagiku.
“Sudah berapa lama kamu jomblo?” SMS Izi lagi.
“8 bulan, kenapa?” tanyaku penasaran.
“Gak apa-apa, Cuma pengen tahu saja J,” jawabnya.
Masa itu, Izi kerja parttime, di sebuah café shift malam. Bagaimana aku tahu? Seperti yang sudah aku jelaskan, aku koordinator, jadi sebisa mungkin aku tahu jadwal teman-temanku (sok). Saat itu, mungkin tanpa aku sadari, bibirku (telah terbiasa) tersenyum setiap kali aku lihat pesan Izi masuk dalam handphone-ku.
… Ingin aku mengenalmu saat ini, Ingin menyapamu tapi aku malu,
Dan kini hatiku mulai bertanya, are you really the one I am searching for? ….
***
Minggu, 28 Oktober 2012 - 0 komentar

Lebih Indah




-Saat ku tenggelam dalam sendu, waktupun enggan tuk berlalu,
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku entah untuk siapapun itu.
Semakin ku lihat masa lalu, semakin hatiku tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku saat ku melihat senyumu.
Dan kau hadir merubah segalanya menjadi lebih indah,
Kau bawa cintaku setinggi angkasa membuatku merasa sempurna,
Dan membuatku utuh untuk menjalani hidup berdua denganmu selama-lamanya,
Kaulah yg terbaik untukku.
Kini ku ingin hentikan waktu saat kau berada di dekatku,
Bunga cinta bermekaran di hatiku, kan ku petik satu untukmu….-
(Adera, Lebih Indah)

Andai saja kamu bisa tahu bahwa lagu ini ingin aku persembahkan untukmu. Pernah aku ingin kamu menyanyikan ini, sayang sekali kamu tidak tahu lagu ini. Mungkinkah kamu akan tahu lagu ini?

Andai saja kamu mau membuka sedikit matamu tentangku, tidak akan aku sia-siakan saat itu. Aku akan berusaha persembahkan yang terbaik dariku meski aku tahu segalanya memiliki keterbatasan dan ketidaksempurnaan.

Andai saja kamu mengerti bahwa aku bahagia dengan keluguan dan kesederhanaanmu. Izinkan aku berada disisimu dalam setiap momen perjuangan hidupmu.

Andai saja kamu mampu membaca hatiku… Andai saja.


Senin, 17 September 2012 - 0 komentar

Kata Perpisahan

diambil dari catatan seorang sahabat KKN, Putut....
 

Perpisahan itu akan selalu ada, karena kita pernah berjumpa, bersama, dalam canda tawa dan bahagia. Setiap tetes airmata yang tertumpah di hari ini, akan menjadi saksi atas jalinan yang selama ini kita simpul seerat-eratnya.

Tak ada kata yang pantas terucap sahabat….. hanya derai bening yang selalu bertaburan, mengucap selamat jalan, silakan lanjutkan perjuanganmu ke arah yang lain, ditempat yang baru, yang akan menjadi jarak pertemuan kita.

Hari ini, jiwa dan naluri kita kembali terluka atas perpisahan raga. Namun percayalah sahabat….. hati kita akan selalu terikat. Jalinan persahabatn akan semakin erat, semakin jauh ragamu melangkah, semakin hatimu mendekat.

Tidak usah terlalu bersedih, sahabat….. berbahagialah, karena engkau akan menemukan suasana yang baru, bukan disini lagi, tapi disana. Cukuplah setiap kenangan yang telah kita tanam, akan menjadi kenangan yang tumbuh subur, menyemaikan benih-benih cita diantara kita. Karena kita tak harus disini, kita tak harus selalu bersama, kita harus melanjutkan langkah ini, mungkin ke tempat yang lain, yang siap untuk kita tapaki.

Perkuat langkahmu sahabat….. yakinkan diri dan hatimu, hari esok pasti lebih cerah, hari esok adalah harapan yang harus diraih. Pandang senyumannya yang lebar, tatap wajahnya yang ceria, hari esok adalah bahagia. Yakinlah sahabat, cinta dan cita kita selalu bersatu. Kita akan bersatu selamanya, dalam cahaya persahabatan ini.

Sahabat….. segala rindu yang akan muncul, segala nafas yang akan berhembus, segala harapan yang akan kita raih, segala langkah yang akan kita ayunkan, yakinlah disana ada sukses. Di sana ada keberkahan, dan di sana pasti ada cinta.

Sahabat….. biarkan aliran airmata ini jatuh sesukanya, biarkan dia mengalir, mengucap kata seindah-indahnya. Biarkan dia, karena airmata tak berarti sedih, airmata tak berarti duka, airmata adalah juga lambang bahagianya hati. Biarkan dia menemani kita di hari ini. Biarkan…..Karena dia memang hadir untuk ini, untuk sebuah perpisahan.

Sahabat….. selamat melanjutkan langkahmu, selamat berjumpa lagi di tangga kesuksesan, dalam senyum yang lebih indah….
- 0 komentar

Perpisahan ini ....


Waktu melangkah cepat meninggalkan 2 Juli 2012. Kini sudah saatnya penarikan KKN-PPL . Izinkan aku untuk menghitung mundur waktu ini. Waktu-waktu dimana aku masih dapat menatap wajahmu. Biarkan aku mengumpulkan segenap bayangmu untuk bekal hatiku setelah ini. Entah kapan lagi kita bisa bersama, aku pun tak tahu. Jika memang kamu tercipta untukku, kapanpun dan dimanapun, kita pasti bertemu lagi. Jika tidak, aku selalu mendoakan untuk bahagiamu.

Tahukah kamu bahwa terkadang aku mencuri pandang ke arahmu. Menahan nafas saat kamu berada di sampingku. Merasa tak ingin jauh dari kamu. Cemburu saat kamu dengan dia yang lain. Sadarkah kamu bahwa seringkali aku mencuri kesempatan untuk bersamamu? Meskipun aku tahu kamu telah memilih dia yang lain.

… cinta ini kadang-kadang tak ada logika (~’o’)~ …

Saat kita jauh nanti, masihkah kamu ingat aku? Aku akan mengigatmu. Karena hadirmu, ceritaku di Purworejo ini menjadi berwarna. Karena hadirmu, aku semangat mengikuti kegiatan KKN ini. Terimakasih :)
 
Walau singkat, setidaknya aku memiliki momen-momen bersamamu. Berdua, tertawa, bercanda dan bercerita tentang apapun. Berfoto bersama denganmu. Bermimpi tentangmu. Menangis saat aku tau kamu memilih dia yang lain. Ya, sedih saat aku melihatmu bersama dia yang lain, mengantarnya pulang. Seandainya saat itu aku berteriak memanggilmu dan memintamu jangan pergi, apa yang akan kamu lakukan? Hehe, Mengingat semua itu akan selalu membuatku tersenyum. Terimakasih :)

Satu yang ingin aku katakan sebelum kita benar-benar berpisah. Kata yang mungkin takkan pernah terucap dari bibirku. Kata yang takkan kamu tahu karena aku yakin bahwa kamu tidak akan pernah membaca ini “Simpan aku dalam hatimu”.
Kamis, 06 September 2012 - 0 komentar

Please.... Look in My Heart

hening yang kini menemaniku berbisik tanyakan risau dalam hatiku.
mataku tak ingin terpejam walau untuk sesaat, meski raga ini terasa begitu lelah dengan semua hal yang terjadi hari ini.
mata ini terus terjaga hingga saat jemari ini menari bersama rasaku.
dulu, kini, esok terasa berbeda..
semua yang tak pernah terfikir akan terjadi, kini terjadi hingga merubah sejarah yang selama ini dimimpi.
semua yang tak aku inginkan dulu, mungkin kini telah rasuki duniaku.
kini saat aku coba mengerti mungkin akan terasa sangat terlambat.
hal yang akan aku pahami dan aku hadapi adalah ketegaran hati yang seharusnya aku lakukan di jauh-jauh hari.
kemana aku selama ini?
aku yang seharusnya mengerti bahwa dalam hidup ada rasa yang semestinya aku peluk erat.
kemana keteguhan hati yang dulu kokohkan kakiku dalam langkahi hidup dengan cita dan cinta?
kemana motivasi yang dulu dengan sepenuh hati aku pertahankan sebelum kini hancur lebih dari berkeping-keping?
ya Allah,
sentuh pipiku, bangunkan aku dari tidur lelapku.
belai lembut rambutku dan tunjukkan padaku senyum mereka yang aku kasihi.
ya Allah,
buka mataku agar aku mengerti dunia yang harus aku hadapi.
kuatkan bahuku untuk hadapi semua tantangan hidup ini.
ya Allah,
genggamlah jemariku, bantulah aku, tolonglah aku dalam langkahku bahagiakan hati yang selama ini selalu berusaha bahagiakan aku.
tempa diriku dengan ujian...
ujian yang mampu sadarkanku bahwa inilah hidup.
jatuhkan aku agar aku mengerti rasa payahnya jatuh dan mensyukuri kejayaanku ketika aku mampu bangkit.
biarkan aku merasakan sakit, biarkan aku menangis,
semua itu agar aku memahami bahwa dalam hidup ada perjuangan dan rasa lelah.
beri aku semua proses itu,
aku tak ingin tumbuh dengan tergesa-gesa.
aku ingin seperti pohon yang tumbuh perlahan namun memiliki akar yang kokoh menggenggam bumi...