Sabtu, 15 Desember 2012 - 0 komentar

Laut Indah Karena Ombak Part 3



-Flashback- 
Senin, 6 Februari 2012, tanggal penerimaan mahasiswa KKN oleh sekolah. Kami, ber-12 orang, berkumpul bersama mendapat pengarahan dari guru koordinator. Sosoknya yang tenang dan bijak, membuat kami tak menyadari bahwa sebenarnya beliau memberikan kami tugas yang berat :P (terhipnotis sosok ke-bapak-annya). Tiba-tiba, di tengah pengarahan, datang lagi seorang anggota KKN kami, yang akhirnya aku tahu kalau dia bernama Izi. Dia terlambat dalam kondisi sepenting ini, OMG! Dia duduk di sampingku. Bodohnya lagi, dia tak membawa kertas untuk menulis info penting. Go to hell… 3:)

Hari itu juga kami observasi lapangan, memastikan apakah program kerja yang kami ambil sudah tepat. Untuk efektivitas kerja, kami membagi tugas. Entah bagaimana ceritanya aku lupa, saat itu aku sekelompok dengan Akso dan Izi bagian sarana dan prasarana. Kikuk rasanya mengingat bahwa aku kurang akrab dengan mereka.

Pertama waktu itu, kami observasi UKS. Kami melihat sarana yang tersedia, dari tempat tidur sampai masalah obat-obatan. Saat menggeledah lemari UKS, Izi menemukan pemijat kepala. Dia memijatkannya ke Akso.

“Tria, pernah lihat ini? Pasti belum,” serunya padaku.
“Iya, belum, apa itu?” jawabku tertarik.
“Sini,” tanpa babibubebo, Izi memijat kepalaku dengan pemijat itu. Dia jauh lebih tinggi dari aku, jadi mudah saja dia menjangkau kepalaku.

Deg! Jantungku (kedengarannya) berdetak lebih keras dari biasanya. Walau hanya beberapa detik, aku yakin raut wajahku berubah. Entah perasaan macam apa ini.

Observasi kami berlanjut terus, sampai akhirnya ke lapangan sepak bola. Bodohkah mereka? Lihatlah aku, aku menggunakan highheels. Tak mudah berjalan cepat di lapangan yang becek mengimbangi langkah kaki jenjang Akso dan Izi.

“Hei, jalannya jangan cepat-cepat donk! Aku susah nih jalannya,” teriakku kesal.

 Akso tetap saja ngeloyor, entah mendengar teriakanku entah tidak. Izi tiba-tiba memandangku di belakangnya, kami saling pandang. Diam. Melanjutkan perjalanan. Aku benar-benar bingung, memandangnya saat itu memberikan rasa ‘kosong’.
***
2 Juli 2012, KKN benar-benar dimulai. Kami mulai ke sekolah meskipun anak-anak tidak sekolah. Saat itu masih libur kenaikan kelas, sekolah sibuk menerima siswa baru. Kami menjalankan program kerja yang telah kami susun, semakin cepat selesai semakin baik, sebelum nanti justru sibuk dengan PPL. Hmmzz, versi universitas kami, KKN dan PPL digabung, waktu dan lokasinya. Tugas kami tidak ringan, hanya saja menyenangkan menyelesaikan tugas bersama teman-teman yang mengasyikkan. Kesal itu wajar pada sesama teman, tetapi semua berjalan baik. Setidaknya kami saling menghormati sesama anggota. 

Ternyata bukan hanya untuk program kerjaku yang harus aku perjuangkan sekuat tenaga, hubunganku dengan Awan pun ternyata menyita tenagaku untuk berjuang. Sejak KKN dimulai, Awan menarik diri dari hidupku, “Aku gak ingin mengganggu kesibukanmu.” Alasan klasik! Dia mulai sering ngambek dengan alasan jenuh, membuatku tak habis pikir. Siapa sebenarnya yang mulai menjauh, hah. Sesibuk apapun aku selalu berusaha menghubunginya, Awan terlalu sok baik untuk tidak menggangguku dengan SMS atau telponnya. Beruntungnya, masalah ini dapat tersingkirkan (sedikit) dengan kesibukan KKN dan kebersamaan teman-teman.

“Halah, paling gak lama putus, hahaha,” ledek Tio.
“Iya, lihat aja mesti ntar endingnya putus,” tambah Ano.
Sial, mereka suka sekali menggodaku seperti itu. Mengerikan! 

Sejak itu, Awan mulai jarang berkomunikasi denganku. Kadang, berhari-hari, dia tidak menghubungiku dengan alasan hemat, gak ada budget buat beli pulsa. Kadang, mereject telponku dengan alasan handphone-nya rusak. Aku mulai tak mengerti, hubunganku tiba-tiba serasa menggantung. Haruskah di saat KKN aku juga memikirkan hal seperti ini?! 

Masa-masa KKN. Banyak cerita. Suka dan duka. Hari pertama KKN, aku harus membuat presensi kehadiran mahasiswa KKN dan membuat jadwal piket harian. Hari kedua, tim membersihkan ruang kelas dan renovasi lapangan. Kegiatan ini berlangsung hingga beberapa hari selanjutnya. Hari ketiga dan keempat, pusing dengan matriks kerja (serasa ingin aku sobek-sobek kertas matriks itu dan kutelan bulat-bulat). Hari kedelapan dan kesembilan, aku membantu sekolah dalam penerimaan siswa baru. Sampai 9 Juli 2012, dari Dinas Purworejo, lokasi KKN-ku, menerima kami secara resmi. Sejak itu, siswa-siswa sudah mulai aktif sekolah. Kami pun semakin sibuk dengan kegiatan KKN-PPL.
***
Suatu hari di bulan Agustus,
“Izi, besok mudik gak? Kalau iya, aku nebeng ya,” itulah pesan singkat yang aku kirim ke Izi.
“Iya, oke deh! Kamu ke alun-alun ya, ketemu di sana. Jam 4 sore ya,” balasnya.
“Terima kasih J” jawabku.
Saat itu bulan puasa, aku males naik bus. Kebetulan Izi searah denganku. Aku nebeng pulang. Tahukah, aku tak sabar menanti hari itu? Hehehe :P statusku? Nggantung! 

Ketika hari H itu datang, aku tepat bertemu dengannya pukul 4 sore di alun-alun. Dia menggunakan jaket hitam bertuliskan Nike warna emas, celana jeans 3 per 4, dan sebuah tas gendong di punggungnya. Perjalananku tak semudah yang dibayangkan, aku harus menahan beban tubuhku selama bermotor karena tumpangan kaki di motornya rusak. Pegal itu pasti, tapi semua itu berbeda sekali dengan perasaan di hatiku. Aku senang, itu tak bohong. Kami bercerita banyak hal, termasuk pengalaman Izi saat ditilang dan mengajar anak banci. 

“Besok balik aku nebeng lagi ya, boleh?” pintaku malu-malu.
“Iya tapi begini kondisinya, gak apa-apa?” jawabnya.
“Iya gak apa-apa, ditebengin aja aku udah ucapin makasih,” jelasku.
Sekitar 15 menit sebelum adzan maghrib, aku dan Izi sampai di rumahku. Sedih! Aku ingin lebih lama lagi bersamanya. Huuuft, masih ada besok lagi.
“Maaf, aku langsung aja ya, gak mampir,” ucap Izi.
“Iya gak apa-apa, makasih ya,” jawabku.
Sekilas, kami bertemu dengan bapakku. Izi dan bapak sempat saling melempar senyum. Saat aku masuk ke rumah, ternyata orang tuaku sudah menyiapkan hidangan berbuka untuk Izi.
“Udah sampai belom? Tahu gak ternyata ortu aku mengira kamu mau mampir tadi,” SMS-ku ke Izi.
“Udah, ini lagi makan. Iyakah, salam aja buat mereka,” balasnya.

Esok hari, baliknya aku nebeng lagi. “Nak, titip Tria ya,” ucap ibu sambil tersenyum pada Izi. Ibu mengantarku menemui Izi. Mendengar kata-kata ibu, Izi hanya mengangguk sambil tersenyum yang berarti –iya tentu saja-. Sayangnya kali ini, Izi kurang beruntung. Jam tangannya ketinggalan, “Jam aku ketinggalan nie,” ceritanya. “Kamu buru-buru ya tadi?” tanyaku. “Gak kok,” jawabnya singkat. Kunci motornya pun entah dimana (motornya ajaib, nyala tanpa kunci). 

Waktu itu, kami berhenti untuk isi bensin. Izi dengan gelisah mencari-cari kunci motornya, di semua saku dia cari dan hasilnya nihil. “Dimana ya kunci motorku?” bingung Izi. Jelas aja aku khawatir, jangan-jangan jatuh di jalan. Lah, kalau begitu, bagaimana kami melanjutkan perjalanan? “Lah, dimana?” bingungku juga. Sejenak kemudian, aku lihat Izi ngobrol dengan seseorang yang juga tengah antri isi bensin. “Mas, pinjem kunci motornya, kunci saya jatuh nih,” bilang Izi kepada pengantri bensin itu. Aku? Jelas saja kaget dengan peristiwa tak biasa ini. Aku hanya terdiam melihat Izi menggunakan kunci pinjaman itu untuk membuka jok motornya. “Baru liat motor aneh begini ya?” canda Izi. Aku tersenyum dan bilang, “Iya, hehehe :P aneh!” Kami melanjutkan perjalanan setelah memastikan si Ungu, motor Izi, sudah kenyang dengan bensin.

Di jalan, kami bertemu dengan Akso.
“Kamu nebeng Akso aja gih, kasian kalau pake motorku,” seru Izi.
Aku kaget mendengar pernyataan itu, yang aku inginkan bukan perjalanan yang cepat sampai, aku hanya ingin duduk di belakangnya, bersamanya, memandang punggungnya. Aku sama sekali tidak berkomentar apapun. Izi pun diam.
“Nanti aku buka puasa di kos cewe ya?” pintanya.
“Oh iya, atau mau buka puasa di jalan tak apa,” jawabku.
“Ah tidak, aku sudah bawa makanan dari rumah, nanti minum saja,” jelasnya.

Kami sampai di kos tepat saat adzan maghrib berkumandang. Dia buka puasa di kos cewe sesuai dengan rencana, kemudian pulang ke kos cowo. “Terima kasih, hati-hati di jalan,” ucapku saat mengantarnya ke depan pintu. Saat aku masuk, teman-teman sudah duduk dengan rapi ingin mendengarkan ceritaku bersama Izi. Hahaha J terlalu indah untuk aku ceritakan dengan kata-kata, teman. Sepanjang jalan kenangan, terbayang saat bersamanya setiap kali melewati jalan yang sama seperti saat itu. Aku bahagia dalam kesederhanaan hidupnya. Aku bahkan lupa bahwa sebelum ini pun aku pernah nebeng pulang bersama Awan. Kemana hatiku sebenarnya berada?
***
Sebelum mudik dengan Izi, aku pernah juga mudik bersama Awan.
“Ayolah jemput aku, aku kangen. Apa kamu gak kangen aku?” rengekku di SMS.
“Tapi aku ada acara, gak tau bisa diwakilin atau gak. Penting! Pengukuran seragam KKN,” balasnya menjelaskan.
“Tapi kamu udah janji, kan bisa balik lagi besok,” tambahku.
“Loh kasihan motorku dong bolak balik terus, cape juga,” balasnya lagi.
“Ya udah, aku bisa pulang sendiri, lagipula aku bukan anak kecil,” ancamku childish.
“Oke! Aku pulang, besok aku jemput,” balasnya menyerah.

Aku tersenyum, akhirnya aku bisa bertemu dengan pacarku yang mulai aneh. Meskipun aku harus terkesan childish, egois, memalukan! Pada hari yang dinantikan, dia benar menjemputku.
Besoknya saat aku mau pulang, aku SMS Awan, meskipun aku sudah tahu apa jawabannya, “Anter aku yuks.”
“Gak bisa, lagi puasa nih, lemes,” balasnya.
“Ayolah, kan deket,” paksaku.
“Lain kali lah ya, bolak balik cape,” balasnya lagi tetap keukeuh dengan pendiriannya.
Aku mulai kesal, bukan karena dia tidak mau mengantarku sebenarnya, lebih karena dia mulai menghindar bertemu denganku.
“Oke, aku gakkan ngrepotin kamu lagi kok. Gak bisa ya manjain aku sedikit aja,” tegasku.
“Manjain menurut kamu itu seperti apa sih? Semua yang kamu mau harus aku turuti?” balasnya.
“Ah, ya sudahlah, aku mau naik bus,” jawabku mengakhiri obrolan.

Aku tak pernah benar-benar marah saat itu. Bahkan aku menulis SMS sambil tertawa melihat tingkahku sendiri. Menurutku, memalukan, kata-kata itu hanya untuk melihat respon dari Awan. Sedikit berlebihan, tapi aku memang penasaran dengan tingkah anehnya. Aku takkan pernah menyangka bahwa ternyata itu adalah pertemuan terakhirku dengan Awan. Bukan karena Awan meninggal, tetapi seperti yang aku rasa, dia menghindariku, tak ingin lagi bertemu denganku. Seandainya aku tahu….
***
19 Agustus 2012, hari lebaran datang, Allohu Akbar!! Maha Besar Alloh dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya, aku masih diberi kesempatan merayakan hari ini bersama keluarga tercinta. H+1, H+2, H+3, dan seterusnya H+5.
“Awan mau datang gak nih ke rumah?” tanya nenek.
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab. Diam.
“Awan masih menghubungimu?” tanya ibu.
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab. Diam.
Apa yang harus aku jawab? SMS tak dibalas, telpon tak diangkat. Dia dimana saja aku tak pernah tahu.
“Hei, Tria, aku kemarin lihat Awan lagi jalan ma temen-temennya. Apa dia udah mampir ke rumah?” tanya Nita.
“Belum,” jawabku singkat.
“Apa sih mau tuh anak, gak jelas! Sudahlah, gak ada guna dipertahankan, pengecut!” seru Nita.
Air mataku perlahan menetes mengingat apa yang sebenarnya terjadi diantara kami. Kisahku dan Awan terasa sangat singkat. Semua hanya karena rasa bersalah Awan dengan masa lalunya bersama mantan pacarnya sebelum denganku. Nita adalah sahabatku yang juga teman SMP Awan. Aku tentu saja menceritakan masalahku dengan Awan, cuma dia yang bisa membantuku saat ini.
“Aku akan membuat Awan menghubungimu,” ucap Nita menenangkanku, “Tria, hidup itu seperti lautan, laut akan semakin indah dengan adanya ombak, bukan? Sabarlah.”
Suatu malam, di malam terakhir aku di rumah, sebelum balik ke kos, Awan SMS, “Maaf belum bisa mampir, lagi sibuk.”
Aku balas, “Iya aku ngerti.”
Jangan kau ganggu hidupku lagi, sudah jelas kini yang kau mau.
Kau sakiti hati ini tuk kesekian kali, memang ku cinta namun tak begini…
Terserah kali ini, sungguh aku takkan peduli, ku tak sanggup lagi jalani cinta denganmu.
Biarkan ku sendiri tanpa bayang-bayangmu lagi, ku tak sanggup lagi, mulai kini semua terserah….
***
Senin, 10 Desember 2012 - 0 komentar

Laut Indah Karena Ombak Part 2


Ini sisi lain kehidupan Tria, selain sebagai sekretaris kelompok KKN. Dia mahasiswi simpel, yang autis dengan hidupnya (kata seorang teman). Ya memang benar, pribadinya yang introvert kadang membuatnya kesulitan bergaul. Belum lagi style-nya yang old fashion. Bukan rahasia, Tria tidak pandai ber’make-up’ walau dia seorang perempuan. Tambahan kacamata lengkaplah dia seperti tokoh culun yang biasa tampil di sinetron. Hahaha :D sayangnya, beberapa waktu sebelum ini terjadi, kacamatanya hilang. Jadilah mata Tria dengan fokus yang berbeda antara kanan dan kiri, sekarang, tanpa kacamata. 

Tria seorang manusia yang punya hati. Hidupnya seperti roda yang berputar, kadang dia tersenyum bahagia, kadang dia tersenyum menutupi sakitnya. Hah, sudahlah, singkatnya aku hanya ingin bilang, saat itu aku sedang dalam proses ‘move on’ dari mantanku yang tak pernah direstui orang tuaku. Biasa problem anak muda. Sudah cukup lama aku berdiam dengan hatiku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuka hati. Siapakah seseorang yang telah mengetuk pintu hatiku?

Jumat, 6 April 2012, dalam waktu yang sangat singkat, entah apakah aku sudah berpikir tentang ini atau hanya terhanyut perasaan, aku putuskan berpacaran dengan Awan. Sahabat lama, yang muncul lagi setelah sebulan putus dari pacarnya (benarkah sudah putus? Entah! Itu jawaban yang tepat). Gilakah aku? Hahaha :D cinta tak ada logika, modusku. Sebelum tanggal itu, 3 tahun aku tak pernah bertemu dengan Awan. Sesekali saja Awan menyapaku lewat SMS. Hanya saja ada satu hal yang membuatku tetap ingat perasaan itu, perasaan saat pertama aku jatuh hati padanya. Satu hal itu adalah cincin. Cincin warna perak dengan tepian warna emas yang 3 tahun lalu dia berikan padaku. Sejak tanggal 6 April, cincin itu melekat erat di jari tengah tangan kiriku. 

Sudahkah aku mengenalnya dengan baik? Jangan tanyakan itu padaku, karena bahkan sejak hampir 3 tahun aku tidak bertemu dengannya, kemarin baru 2 kali aku bertemu dengannya, aku langsung menerimanya menjadi pacarku. Hahaha :D Saat itu, aku bahkan belum tahu masa lalunya dengan mantannya. Bukan tak pernah aku bertanya, hanya saja saat aku bertanya tentang masa lalunya, Awan selalu marah padaku “Aku tak suka membahas hal yang membuat aku kesal. Masa laluku adalah hal yang membuat aku badmood!” Diam.
Kisah cintaku tak berjalan tanpa halangan seperti jalan tol. Aku dan Awan jauh, aku di Jogja dan dia di Semarang. Sesekali saat libur cukup panjang barulah kami bisa bertemu, itupun kalau Awan gak sibuk (aku kasih tau ya Awan itu ngakunya ketua UKM Baseball, sekarang dia atlet baseball Semarang). Lebih sering, kami berkomunikasi lewat SMS, tak banyak tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku selalu takut jenuh datang menghampiri kami. Aku dengan segala keterbatasanku, akankah mampu terus mengikuti langkah kaki kehidupannya?
***
Beberapa hari sebelum 2 Juni 2012, seperti malam-malam sebelumnya, aku merapat di teras perpustakaan.
“Teman, adakah diantara kalian yang senggang 2 Juni besok? Aku ma Hesti harus pergi mengambil spesimen di Krakal. Maukah 2 orang dari kalian mengantar kami?” mohonku saat itu.
“Wah sibuk tuh, aku ada trip ke lokasi penduduk suku Badui,” kata Tio.
“Aku juga gak bisa, bisnis,” kata Akso.
“Aku juga gak bisa, sorry, coba dong hubungi yang Semarang tu, demi cinta pasti maulah,” goda Ano, si Ketua kelompok.
Temen-temen KKN langsung aja heboh, saat itu juga status aku menyebar, kecuali Izi. Dia tidak datang merapat saat itu.
“Nih si Harry bisa, kurang satu lagi aja,” solusi Ano.
“Nah, Izi aja di SMS, Sini aku yang SMS dia,” tawar Tio sembari merebut handphone-ku.
Aaaaaaaaaargh, menyebalkan! Mereka asyik sekali menggodaku semalaman itu.
“Aduh aku jadi bingung, uangku habis, aku mau mudik je,” jawab Izi setelah Tio SMS minta tolong, atas namaku, tentu saja.
“Please, mau ya… Ini penting banget buat KKN aku. Masalah uang nanti pinjem aku dulu gak apa-apa deh,” mohonku memelas.
“Iya deh, demi kelompok KKN,” sanggup Izi.
“Makasih ya, masalah motor, Akso mau pinjemin kok,” legaku.
***
Sabtu, 2 Juni 2012, pukul 05.00 WIB “Hallo, udah bangun lom nie? Ayo bangun, jadikan antar aku ke pantai? Jangan lupa ya,” telponku.
Izi menjawab di seberang sana, “Iya udah bangun kok. Oke!”
IM3 ke XL booooo… gak masalah, toh ini memang urusan penting. Sudah aku siapkan pulsa yang cukup untuk ini (sengaja).
Beberapa saat kemudian,
“Aku udah di gang, kosmu mana?” tanya Izi.
“Oh ya, aku keluar deh, lurus aja,” jawabku, gugup. Aku akan bertemu Izi hari ini, wow!
“Hai, makasih ya udah datang, maaf ngrepotin,” kataku membuka pertemuan pagi itu.
“Iya gak apa-apa,” jawabnya singkat.
“Udah makan?” lanjutku mencoba mengisi kekosongan sambil menunggu teman-teman yang lain berkumpul.
“Ya, sudah,” jawabnya dengan senyum dari bibir khasnya, yang suatu saat nanti aku tahu, bentuk bibirnya unik karena kecelakaan.
Kini, aku tengah berdiri di sampingnya. Dia duduk di atas jok motor Akso. Dia mengenakan kemeja panjang bergaris hitam dan celana jeans panjang (resmi sekali :P). Apapun yang dia pakai, tetap saja menarik pandangan mataku untuk tetap melihatnya (lupa udah punya Awan). Kakinya jenjang, membuatku yakin dia sangat lelah duduk berpuluh-puluh menit di motor dalam perjalanan ke Krakal nanti.
Tak lama, teman-teman berkumpul dan berangkatlah kami. Ini pertama kalinya Izi ke Krakal. Ini pertama kalinya, aku perjalanan jauh bersama Izi. Menyenangkan J Paling tidak, aku merasa nyaman duduk di belakangnya. Sampai akhirnya, sampailah kami di pantai. Aku dan teman-teman Biologi, turun ke pantai mengambil spesimen, sedangkan Izi dan Harry berjalan-jalan.
Saat selesai, kami sempatkan narsis di pantai. Hehehe :P sayang jika pemandangan indah dilewatkan begitu saja. Aku? Aku duduk bersama Izi, berdua, di tepi pantai, memandang lautan biru. Seperti ombak di lautan yang bergemuruh itu, hatiku pun bergemuruh. Suasana ini indah. Mungkin sejak saat itu, aku suka pantai yang berombak. Kami bercakap banyak hal.
“Kenapa kamu gak ikut foto?” Tanya Izi.
“Aku nemenin kamu, masa iya aku tega biarin kamu sendiri,” jawabku sekenanya (meski sejujurnya, aku memang ingin duduk berdua dengannya).
Izi hanya tersenyum dan memalingkan wajahnya memandang lautan. Aku? Like a fool, memandangnya dari sudut mataku dan melukis siluet wajahnya dalam memori otakku.
Suatu hari, di kala kita duduk di tepi pantai dan memandang ombak di lautan yang kian menepi.
Burung camar terbang bermain di derunya air.
Suara alam ini hangatkan jiwa kita….
***
Malam merapat selanjutnya, “Hayooooo Izi, ngapain aja kemarin ma Tria?” ledek Tio. Tio inilah sosok teman KKN yang bisa saja buat suasana menjadi seru.
“Gak ngapa-ngapain kok?” jawab Izi bingung, wajah innocent-nya benar-benar membuat orang tertawa.
Aku hanya tersenyum, membiarkan Izi menjadi bahan ledekan Tio. Aku menikmati ledekan itu, hahaha (kejamnya).
Sejak malam itu, aku yakin Izi tahu aku punya pacar. Sejak saat itu pula, aku jarang (lebih jarang daripada jarangnya kami biasa berkomunikasi) berkomunikasi dengannya. Bukan salah siapapun, ini hanya karena aku fokus dengan Awan, hingga selain itu terlihat buram. Keburaman yang suatu saat pasti akan aku sesali. Lihat saja!
***
Minggu, 09 Desember 2012 - 0 komentar

Laut Indah Karena Ombak Part 1


“Hai, namaku Tria. Aku KKN di SMA X, sama denganmu. Salam kenal, hubungi aku balik ya J terima kasih”
Itu SMS yang aku kirim ke semua teman-teman KKN-ku. Sekadar memperkenalkan diri dan berusaha membangun komunikasi. Hehehe :P maklum, ini pengalaman pertamaku. Aku yakin cerita KKN-ku akan berjalan menarik.
Drrrrrt….! Handphone-ku bergetar. Ada pesan masuk yang langsung aku baca.
“Mungkin kamu salah, aku bukan di SMA itu. Kamu pacar temanku hah?”
Hah! Apa iya aku salah, jelas-jelas aku dapat nomor ini dari teman sejurusannya. Aku pacar temannya? Mana mungkin, aku saja tidak mengenalnya. Aku segera membalas pesannya.
“Bukankah namamu Izi? Aku tau ini dari temanmu sendiri, Akso.”
Semenit, dua menit, aku menunggu dengan banyak pertanyaan. Jika aku salah, aku akan sangat malu. Memperkenalkan diri dengan sok akrab dan ternyata salah orang, itu bukan awal yang baik.
Pesan masuk dari Izi, “Hahaha :D iya berarti kalo dari dia, aku benar temen KKN-mu. Salam kenal!”
Hahahahahaha :D sangat terlalu…. Akso bilang, “Dia memang kaku, biasalah orang baru dikenal.”
***
Tik tok tik tok! Jam dinding terus berdetak menunjukkan bahwa waktu memang takkan pernah mau berhenti sejenak saja. Pertemuan pertama dengan dosen pembimbing KKN tinggal esok.
Kamis, 2 Februari 2012
“Halo, namaku Tria, dari pendidikan Biologi, FMIPA. Asalku dari Kebumen. Salam kenal!”
Perkenalan pertamaku dengan teman sekelompok KKN. Kami ber-13, dengan 6 laki-laki dan 7 perempuan. Semua terasa kompak, apalagi kalau kamu tahu rahasianya, 6 dari kami adalah teman SMA. Hehehe :P kami gak pernah janjian, it’s a fate! Setelah pertemuan ini, aku dan teman-teman akan lebih sering bertemu membahas program kerja kami. Yah, so far so fine.
***
Drrrrttt…! Handphone-ku bergetar. Yeah, kamu harus tahu jarang aku menderingkan handphone-ku. Jujur saja handphone-ku produk Cina, nada deringnya nyaring dan aku tidak suka gangguan itu. Jadi, lebih baik aku getar saja. Aku buka pesan itu dan aku terkejut. Bukan karena itu pesan menang undian 1 M atau ancaman boom, tapi karena itu adalah pesan dari Izi. Kamu tahu bukan, awal perkenalan kami tak berjalan mulus, hal luar biasa bagiku saat dia menyapaku terlebih dahulu.
“Kamu mau ikut gabung PKM-ku?”
Hah! PKM? “Tentang apa?” balasku.
“Tentang kandungan pectin dalam kulit jeruk. Mungkin saja bisa kita buat minuman penunda lapar, bagaimana?” jawabnya menjelaskan.
“Aku belum banyak tahu, tapi mungkin saja itu bisa. Ya akan aku bantu. Bolehkah aku mengajak seorang temanku?” lanjutku.
“Oke! Oh ya tapi aku belum mencari referensi tentang itu,” jelasnya.
“Hem, ya nanti akan aku coba cari dan segera menghubungimu,” sanggupku.
Dengan keseriusan tinggi (nggaya), aku coba cari referensi tentang itu. Ya tentu saja aku menemukannya dan menyusunnya menjadi file yang rapi untuk aku berikan pada Izi, ‘folder untuk Izi’. Coba saja kamu cari di notebook-ku, kamu akan menemukan folder itu. Pasti! Masih utuh dengan isi-isinya yang takkan pernah jadi aku berikan padanya.
“Nanti kamu berangkat rapat? Aku ingin memberikan sesuatu,” pesanku.
“Aku sedang sakit, tapi baiklah aku usahakan untuk berangkat,” janji Izi.
Suatu malam, malam biasa dimana aku dan teman-teman KKN merapat. Aku berniat memberikan sejumlah referensi yang sudah aku cari untuk Izi.
“Woi, bro, kamu berangkat juga. Katanya kamu sakit, hah?” Tio menggoda Izi, “Hahaha, tenang saja ada………………………………………”
Izi hanya tersenyum.
Kenapa kalimat Tio berlanjut dengan titik-titik? Karena aku tidak mendengar lanjutan kata-kata Tio. Nyatanya memang Izi flu saat itu. Melihatnya datang dengan menggunakan jaket tebal, membuatku merasa bersalah memintanya datang malam-malam untuk rapat. Oh ya, kami selalu rapat di teras perpustakaan.
Ketika bahasan rapat sudah selesai, aku mendekatinya yang tengah duduk di dekat tembok perpustakaan. Aku malu, tentu saja. Bagaimana mungkin aku dulu yang harus mendekatinya? Tetapi jika tidak, sampai kapan dia akan diam seakan tidak ada kepentingan antara aku dan dia. Aku duduk di sampingnya dan memberikan gambaran singkat PKM jeruk itu, “Ini bacalah.’
Beberapa saat, kami hanya diam. Izi membaca catatan berantakanku.
“Bagaimana ini, jadikah PKM kita?” tanyaku pada Izi.
“Maaf, aku masih sibuk kuliah,” jawab Izi, “mungkin lebih baik untuk fokus skripsi saja, bukan PKM.”
Sudah jelas bukan alasannya kenapa aku tidak pernah memberikan folder itu padanya. Huuuuft, >_<
***
Berhari-hari sejak saat itu, aku menjadi koordinator teman-teman. Aku menjadi penyebar informasi. Oh ya, aku sekretaris dalam kelompok. Setiap ada info baru, setiap ada perkembangan kelompok, setiap ada pertemuan, aku yang akan menyebarkan semua itu pada teman-teman.
“Jangan lupa merapat ya,” pesanku pada semua teman-teman KKN.
“Oke! Udah makan?” balas Izi.
Hahaha :D Izi… Izi… dan Izi. Tentu saja, ini ceritaku tentangnya. Jadi, jangan bosan membaca nama Izi dalam ceritaku ini.
-udah makan?- pertanyaan Izi yang khas sekali selalu dia tanyakan setiap kali SMS-an denganku, hingga suatu hari,
“Kalau aku belum makan, apakah kamu mau traktir aku?” candaku.
“Ya, di angkringan ya, mau? Haha,” jawab Izi.
“Oke! Bener loh ya, aku belum pernah tuh makan di angkringan,” tanggapku.
Ya begitulah. Pertanyaan yang sangat lugu, kecuali ini.
“Kenalin lah aku ma temen-temen kos kamu,” SMS Izi suatu hari.
“Hahaha :D temen-temenku cantik-cantik (gak kayak aku :P) Mau tipe yang seperti apa? Datanglah ke kos,” godaku.
“Siapa bilang, kamu manis kok. He, gak jadi kenalan ma temen-temen kamu lah. Belum tentu cocok,” balasnya.
Sadarkah kamu, ada sesuatu yang buatku tersenyum tanpa aku sadari saat membaca SMS itu. Dia bilang aku manis. Hahaha, aku juga wanita, senang dipuji. Bukan itu sih intinya, seorang Izi mengatakan hal itu sungguh hal yang luar biasa bagiku.
“Sudah berapa lama kamu jomblo?” SMS Izi lagi.
“8 bulan, kenapa?” tanyaku penasaran.
“Gak apa-apa, Cuma pengen tahu saja J,” jawabnya.
Masa itu, Izi kerja parttime, di sebuah café shift malam. Bagaimana aku tahu? Seperti yang sudah aku jelaskan, aku koordinator, jadi sebisa mungkin aku tahu jadwal teman-temanku (sok). Saat itu, mungkin tanpa aku sadari, bibirku (telah terbiasa) tersenyum setiap kali aku lihat pesan Izi masuk dalam handphone-ku.
… Ingin aku mengenalmu saat ini, Ingin menyapamu tapi aku malu,
Dan kini hatiku mulai bertanya, are you really the one I am searching for? ….
***